Anestesiologi dan Reanimasi

Program Pendidikan Dokter Spesialis FKUB
Ditulis pada 1 May 2017 , oleh anestesippds , pada kategori Berita

Matahari naik sepenggalah. Cahayanya masuk menelusup pintu dan lubang angin Aula Majapahit, RS Saiful Anwar (RSSA) Malang, menghangati tak kurang dari 100 orang yang duduk rapi menunggu giliran namanya dipanggil. Ke-100 orang dengan keluhan yang sama : menanggung nyeri. Sebuah rasa tidak nyaman, baik ringan atau berat, yang dirasakan seseorang.

Hari itu, Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FKUB) bekerja sama dengan Puskesmas-puskesmas yang ada di kota Malang  mengadakan kegiatan Bakti Sosial atau Pengabdian Masyarakat berupa pengobatan nyeri secara gratis, 29-30 April 2017 lalu. Ini sebagai salah satu kegiatan Tri Darma perguruan Tinggi, yaitu pengabdian masyarakat, dalam hal ini bagi warga Malang Raya yang menderita nyeri.

“Ini baksos yang ke-2 yang kami laksanakan. Yang pertama, tahun lalu di Batu, dengan jumlah pasien sekitar 150 orang.  Kalau yang sekarang sekitar 100 orang dan dilaksanakan 2 hari berkelanjutan, agar lebih intens ke pasien,” jelas dr Karmini, Sp.An, KAP,  Ketua Program Studi Anestesiology dan Terapi Intensif FKUB, yang duduk mendampingi Dekan FKUB, Dr. dr. Sri Andarini, M.Kes yang berkesempatan membuka secara resmi kegiatan ini. Turut hadir dan memberi sambutan Wakil Direktur RSSA, dr. Hanief Noersjahdu, Sp.S.

Dari pasien yang hadir, wajahnya tampak penuh harap bahwa kegiatan terapi nyeri ini dapat mengurangi derita nyeri yang mereka alami, tanpa harus bedah operasi dan tanpa dipungut biaya apapun.

“Memang tujuan bakti sosial ini, selain membantu mengatasi nyeri pada pasien, terpenting juga mengenalkan modalitas terapi nyeri kepada masyarakat luas berupa intervensional pain management,” terang dr. Ristiawan, Sp.An, KMN.

Dokter yang sudah mengambil sub-spesialis atau Konsultan Manajemen Nyeri, ini menegaskan lebih lanjut, bahwa manajemen nyeri itu hadir untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Hidup dengan rasa nyeri, apalagi nyeri kronis, yakni rasa nyeri yang dirasakan dalam waktu yang lama, tentu membuat kualitas hidup seseorang menurun.

“Tidak hanya para orang tua yang mengalami keluhan nyeri ini, bahkan mereka yang disebut muda pun, tak luput dihinggapi rasa nyeri ini,” tukasnya lagi.

Dan faktanya, beberapa pasien usianya bahkan dibawah 35 tahun yang terdaftar sebagai pasien baksos. 2 orang diantaranya mesti dilakukan tindakan terapi lebih lanjut.

Setiap peserta (pasien) baksos yang hadir, dipanggil satu persatu untuk didiagnosa. Kemudian hasil dari diagnosa, jika diperlukan tindakan, maka pasien diarahkan ke bilik tindakan, dimana dr. Prabowo, Sp.An, KMN, dr. R. Yosi Asmara, Sp.An, FIPM, FIPP, dan dr. Soni Sunarso, Sp.An, FIPM, siap melayani.

jika diperlukan untuk tindakan lebih lanjut, mengingat tipe dan skala nyeri-nya, maka pasien dirujuk untuk mengikuti terapi lanjutan keesokan harinya di ruang tindakan khusus, bagian Anestesi RSSA.

RS Saiful Anwar kini sudah memiliki Poli Nyeri Anestesi. Peresmiannya dilakukan pada saat bersamaan dengan kegiatan baksos kemarin. Belum banyak rumah sakit pemerintah yang sudah memiliki layanan nyeri dengan fasilitas Intervensional Pain Management, seperti Terapi Intervensi menggunakan radiofrequency (RF), sebagaimana yang dimiliki RSSA ini.

Hal ini menjadi salah satu modalitas terapi nyeri non farmakologis terhadap pasien-pasien nyeri, terutama nyeri yang membandel (kronis).

Beberapa contoh tindakan Intervensional Pain Management yang menggunakan radio frequency, yang dilakukan di RSSA pada hari ke-2 baksos sebagaimana yang terekam pada gambar-gambar di bawah ini :

Kuliah umum tentang “Pain Management”

Pada saat bersamaan, kegiatan baksos ini diisi juga dengan kuliah umum tentang “Introduction of Pain Management” oleh Prof . dr. A. Husni Tanra, KIC, KMN, seorang ahli pain yang diakui oleh dunia internasional, Guru Besar di Universitas Hasanuddin, Makassar.

Para pesertanya terdiri dari dokter-dokter puskesmas, PPDS (dokter yang tengah belajar spesialis anestesi) dan fellowship (dokter anestesi yang sedang mengambil komptensi tambahan dalam bidang nyeri).

Acara yang dibuka oleh Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya ini, juga turut dihadiri oleh dr. Willy Halim, FIPP (dokter ahli pain dari Belanda), dr. Karmini, Sp.An, dan dr. Ngurah Gunapriya, Sp.An, FIPP.

Dalam paparan makalahnya, Prof Husni mengatakan bahwa pain atau nyeri itu merupakan pengalaman yang diterjemahkan otak. Oleh karena itu kalau seseorang tidak mempunyai otak, maka ia tidak akan merasakan nyeri.

Nyeri itu juga sangat berbeda bagi setiap orang. Bagi laki-laki berbeda dengan perempuan.

“Perempuan itu paling mudah/cepat merasa nyeri tetapi paling toleran terhadap rasa nyeri. Endurance -nya perempuan itu tinggi. Begitu sebaliknya bagi laki-laki,” jelas Prof. Husni.

Makanya tak heran, kenapa perempuan itu yang hamil dan melahirkan.

Dalam konklusinya Prof. Husni menyampaikan pesan kepada para dokter, “Jangan pernah membayangkan bahwa kamu tahu apa yang dirasakan pasien. Artinya, kamu harus percaya apa yang dikatakan pasien. Beri empati yang setinggi-tingginya”.

Sebab, menurut Prof. Husni, ada penelitian yang mengatakan rasa empati itu 70% bisa menghilangkan rasa nyeri tanpa obat. Kalau si pasien itu sudah trust, percaya kepada dokter, baru melihat wajah sang dokter saja, pasien merasa sudah hilang rasa sakitnya.

“Karena nyeri itu ada di mindset seseorang,” kata Prof. Husni mengakhiri paparannya