Anestesiologi dan Reanimasi

Program Pendidikan Dokter Spesialis FKUB
Ditulis pada 30 April 2017 , oleh anestesippds , pada kategori Berita

Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya (FKUB) bekerja sama dengan puskesmas di kota Malang mengadakan kegiatan Bakti Sosial Pengobatan Nyeri selama dua hari (29-30/4/2017).
“Ini baksos ke-2 yang kami laksanakan. Tahun lalu di Batu, dengan jumlah pasien sekitar 150 orang. Kalau yang sekarang sekitar 100 orang dan dilaksanakan dua hari berkelanjutan, agar lebih intens ke pasien,” kata Ketua Program Studi Anestesiology dan Terapi Intensif FKUB dr. Karmini, Sp.An, KAP.
Selain membantu mengatasi nyeri pada pasien, kegiatan tersebut juga mengenalkan modalitas terapi nyeri kepada masyarakat luas berupa intervensional pain management.
Dokter yang sudah mengambil sub-spesialis atau konsultan manajemen nyeri ini menjelaskan, bahwa manajemen nyeri itu hadir untuk meningkatkan kualitas hidup manusia. Hidup dengan rasa nyeri, apalagi nyeri kronis, yakni rasa nyeri yang dirasakan dalam waktu yang lama, tentu membuat kualitas hidup seseorang menurun.
“Tidak hanya para orang tua yang mengalami keluhan nyeri ini, bahkan mereka yang disebut muda pun, tidak luput dihinggapi rasa nyeri ini,” katanya.
Faktanya, beberapa pasien yang usianya dibawah 35 tahun yang terdaftar sebagai pasien baksos, beberapa diantaranya harus dilakukan tindakan terapi lebih lanjut.
Dalam kegiatan tersebut, setiap peserta (pasien) baksos yang hadir, dipanggil persatu untuk didiagnosa.
Dari diagnosa yang sudah dilakukan, jika diperlukan tindakan, maka pasien diarahkan ke bilik tindakan, dimana dr. Prabowo, Sp.An, KMN, dr. R. Yosi Asmara, Sp.An, FIPM, FIPP, dan dr. Soni Sunarso, Sp.An, FIPM, siap melayani.
Jika diperlukan tindakan lebih lanjut lagi, maka pasien dirujuk untuk mengikuti terapi lanjutan keesokan harinya di ruang tindakan khusus, bagian Anestesi RSSA.
RS Saiful Anwar kini sudah memiliki Poli Nyeri Anestesi. Di Indonesia sendiri belum banyak rumah sakit pemerintah yang memiliki layanan nyeri dengan fasilitas Interventional Pain Management, seperti Terapi Intervensi menggunakan radiofrequency (RF), seperti yang dimiliki RSSA ini.
Beberapa masyarakat yang sudah mengikuti bakti sosial mengaku berkurang rasa nyerinya setelah mengikuti terapi yang diberikan oleh RSSA. Hal ini terbukti dari pernyataan Muhedi (62 tahun). Lansia yang tahun lalu juga mengikuti bakti sosial terapi nyeri tersebut berkata rasa sakitnya berkurang dibanding pertama saat dia datang. Bahkan tangannya sudah bisa digerakkan tanpa rasa nyeri. [Nurdin/Humas UB]