Ilmu Penyakit Dalam

Program Pendidikan Dokter Spesialis FKUB
Ditulis pada 6 Desember 2016 , oleh ipdppds , pada kategori Pengumuman

Announcement Thypoid

Demam tifoid masih menjadi masalah kesehatan global bagi masyarakat dunia, terutama di negara yang sedang berkembang. Besarnya angka pasti pada kasus demam tifoid di dunia masih sangat sulit untuk ditentukan karena penyakit ini dikenal mempunyai gejala dengan spektrum klinis yang sangat luas. Data dari World Health Organization (WHO) tahun 2003 memperkirakan terdapat sekitar 17 juta kasus demam tifoid di seluruh dunia dengan insidensi 600.000 kasus kematian tiap tahun (WHO, 2003). Perkiraan angka kejadian dari 150/100.000/tahun di Amerika Selatan dan 900/100.000/tahun di Asia.  Insidensi kasus demam tifoid di Indonesia masih sangat tinggi, diperkirakan 350-810 per 100.000 dengan angka kematian 0,6-5% sebagai akibat keterlambatan mendapat pengobatan.

Walaupun terus menerus mengalami penurunan jumlah kasus, demam tifoid di Indonesia masih terhitung tinggi serta fluktuatif, nampak dari data tahun 2000 terdapat 275.639 kasus dengan angka insidensi 12,97 per 10.000 penduduk dan menurun terus sampai pada tahun 2002 hanya tercatat 136.088 kasus dengan angka insidensi 6,4 per 10.000 penduduk, namun pada tahun 2003 mengalami peningkatan jumlah kasus lagi mencapai 255.817 kasus dengan angka insidensi 12 per 10.000 penduduk dan pada akhirnya menurun lagi pada tahun 2004 mencapai 134.065 kasus yang tercatat dengan angka insidensi 6,19 per 10.000 penduduk. Data ini menunjukkan masih tingginya kejadian demam tifoid di Indonesia dan masih pentingnya metode diagnostik yang akurat untuk menegakkan diagnosis dan menetapkan medikasi yang sesuai (DEPKES RI, 2005). Data dari Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) Provinsi Jawa Tengah bahwa tifoid klinis dapat dideteksi dengan prevalensi 1,6% dan tersebar diseluruh kabupaten atau kota dengan rentang 0,2-3,5%. Prevalensi tertinggi dilaporkan dari Kabupaten Wonosobo, Pemalang dan Cilacap yaitu lebih dari 3% (RISKESDAS, 2007). Diagnosis demam tifoid ditegakkan dengan melihat gejala klinis dan hasil laboratorium. Demam  tifoid memunculkan gejala-gejala sebagai berikut: demam, malaise, sakit kepala, hepatosplenomegali, bintik merah di dada, nyeri abdomen, typhoid tongue, gangguan gastrointestinal, bradikardi dan gangguan kesadaran.

Pemeriksaan laboratorium yang biasa dilakukan untuk membantu dalam diagnosis demam tifoid adalah pemeriksaan darah perifer lengkap dengan gambaran yang sering ditemukan berupa leukopenia, namun dapat pula terjadi jumlah leukosit normal atau leukositosis, pada pemeriksaan hitung jenis leukosit dapat terjadi aneosinofilia maupun limfopenia. Keusch (1999)  mengemukakan bahwa endotoksin lipopolisakarida pada S.typhi dapat menyebabkan leukopenia, sehingga pada hasil laboratorium demam tifoid dapat ditemukan  leukopenia dan neutropenia, tetapi untuk leukopenia berat (

Untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan pengetahuan tentang Demam Tifoid di seluruh Malang Raya Khususnya dan Jawa Timur Umumnya, maka oleh karena itu diselenggarakan acara ini yang diharapkan bisa bermanfaat semaksimal mungkin.